Tao Silalahi Arts Festival: Berkemah dan Menari di Tepian Danau Toba

By

Inilah festival anak muda yang menggeliat-bangkitkan tepian Danau Toba di Silahisabungan dari kesunyian yang nyaris abadi.

Dari kejauhan di ketinggian perbukitan yang mengelilingi Danau Toba, ratusan pejalan memenuhi Jalan Raya Silahisabungan. Mereka berjalan kaki dari perhentian kendaraan umum terakhir di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, menuju daerah perkemahan Pulau Silalahi di Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi.

Anak-anak muda ini akan bermalam selama tiga hari dua malam saat perayaan Tao Silalahi Arts Festival. Selama festival itulah, tepian Danau Toba di daerah perkemahan Pulau Silalahi dihiasi ratusan tenda aneka warna. Festival ini dikenal sebagai festival 1000 tenda dan telah dilangsungkan sebanyak tujuh kali sejak penyelenggaraan pertamanya pada tanggal 2–4 Desember 2016.

Gagasan menyelenggarakan festival diawali dari keprihatinan para pemuda setempat terhadap kondisi Silahisabungan. Selama ini orang lebih mengenal Parapat dan Samosir sebagai bagian dari Kawasan Danau Toba. Silahisabungan nyaris tak dikenal sebagai bagian dari kawasan tersebut. Padahal Silahisabungan menyimpan keindahan alam, budaya, dan dan situs-situs peninggalan sejarah yang tak kalah memikat.

Sejumlah pemuda dari Silahisabungan, Sidikalang, dan Rumah Karya Indonesia (RKI) memprakarsai penyelenggaraan festival pertama yang diberi nama Silahisabungan Arts Festival. Mereka berharap melalui festival semua potensi Silahisabungan dapat diangkat dan dikembangkan agar orang-orang berkunjung ke Silahisabungan dan terjadi pertukaran, baik pengetahuan, sosial, budaya, maupun ekonomi.

Salah seorang pemuda pemrakarsa yang berasal dari Silahisabungan, Hermanto Situngkir, sekaligus Ketua Karang Taruna (Naposo Bulung) Desa PAropo 1, mengkoordinasi beberapa anak muda Silahisabungan untuk bergerak mempersiapkan festival. Anak-anak muda ini bekerja mengurusi pendaftaran pengunjung, menata artistik festival, mempersiapkan panggung, menata area perkemahan, menghubungi para penampil, menyediakan transportasi, memandu pengunjung, memasang spanduk/umbul-umbul, hingga menata parkir dan keamanan.

Tidak hanya anak-anak muda, penyelenggaraan festival juga melibatkan warga setempat. Para pemuka adat yang terdiri dari Raja-raja Turpuk memberikan panduan terkait adat-istiadat yang disertakan dalam festival. Raja-raja Turpuk yang berjumlah delapan orang merupakan ketua dari masing-masing marga utama keturunan Raja Silahisabungan.

Raja-raja Turpuk bersama ibu-ibu (namboru), yang mempersiapkan kebutuhan ritual, akan memandu jalannya Upacara Hahomion. Upacara Hahomion yang mengawali festival merupakan ritual meminta restu kepada leluhur. Upacara ini berlangsung di dua tempat dalam satu rangkaian yaitu di Tugu Raja Silahisabungan dan Pulau Silalahi.

Setiap tahun festival berlangsung di dua lokasi, yaitu di daerah perkemahan Pulau Silalahi dan di desa setempat. Kegiatan utama di area daerah perkemahan Pulau Silalahi adalah festival 1000 tenda dan panggung kesenian. Festival 1000 tenda merupakan daya tarik utama festival ini. Setiap tahunnya ratusan hingga ribuan anak muda datang untuk menginap di sini. Di panggung kesenian para seniman penampil menggelar pertunjukan musik, teater, dan tari. Seluruh pengunjung juga diajak menari Tortor bersama-sama dengan seniman penampil.

Lokasi kedua adalah desa setempat. Di desa ini festival desa digelar. Setiap tahun lokasi kedua berpindah dari satu desa ke desa lain secara bergantian. Festival desa berisi kegiatan permainan rakyat, lomba untuk anak-anak, pameran dan kegiatan menenun ulos, serta pertunjukan kesenian anak-anak dari sanggar-sanggar kesenian. Selain itu, dilakukan juga pameran hasil ladang dan pertunjukan menari anggota PKK serta lansia.

Para pengunjung festival juga diajak mengikuti kegiatan Fun Trip di lokasi wisata dan situs-situs peninggalan budaya di Silahisabungan. Salah satunya pengunjung diajak mendaki bukit di Silalahi untuk menanam empat ribu bibit pohon sesuai tema festival “Menenun Hijau Perbukitan, Merawat Kearifan Lokal”.

Sejak 2018 festival ini berganti nama menjadi Tao Silalahi Arts Festival dan selalu menyematkan tema berbeda setiap tahun. Tahun 2021 tema festival adalah “Solu”. Solu, yang artinya perahu, merupakan wahana transportasi air yang selalu digunakan masyarakat di pinggiran Danau Toba. Pada tahun 2022 tema yang diangkat adalah Batu Ni Hata. Batu Ni Hatta adalah sistem pengadilan tertinggi yang pernah ada dalam sejarah Raja Silahisabungan.

Dari tahun ke tahun jumlah pengunjung festival selalu mengalami peningkatan. Capaian tertinggi jumlah pengunjung adalah pada tahun 2019, yaitu sebanyak sembilan ribu orang yang tercatat secara resmi dari hasil penjualan tiket masuk.

Pada masa pandemi Covid-19 festival berlangsung secara virtual selama dua tahun berturut-turut, yaitu 2020 dan 2021. Tahun berikutnya festival dilangsungkan secara hibrida (daring dan luring) dengan jumlah pengunjung sebanyak dua ribu orang. Berdasarkan pendaftaran resmi yang tercatat, pengunjung umumnya berasal dari sekitar Kabanjahe, Dairi, dan Medan.

Meski jumlah pengunjung masih jauh dari puncak kunjungan pada tahun 2019, penyelenggara optimis bahwa festival akan tetap menarik minat pengunjung di tahun-tahun berikutnya.

*Artikel telah diterbitkan dalam “Kajian Festival Warga: Studi terhadap Sepuluh Festival Warga di Indonesia” diterbitkan oleh Yayasan Umar Kayam dengan dukungan Kemendikbud, Dana Indonesiana dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan

Posted In ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *