Layang Lakbok Art & Culture Festival: gerakan sahabat dari ujung timur Jawa Barat

By

“Sungguh, tuan, apabila dimusim panen kita berada di tengah-tengah pesawahan Rawa Lakbok itu, maka kita rasanja berada di tengah lautan, sedjauh mata kita memandang hanja riak padilah jang nampak menguning, menggerisik padi beradu ditiup angin mendatang dan menghilang.”

Kalimat di atas adalah nukilan yang dipetik dari buku terbitan Djawatan Penerangan Jawa Barat pada Agustus 1953 silam. Buku ini semacam agenda rutin Kementrian Penerangan untuk hari kemerdekaan Negara Indonesia. Setiap provinsi diberi kesempatan untuk menggambarkan keadaann daerah mereka melalui tulisan. Oleh Djawatan Penerangan Jawa Barat ketika itu, buku ini berisi gambaran komprehensif provinsi Jawa Barat. Buku yang berisi 600 halaman lebih itu, sejarah, budaya, politik, ekonomi, dan kehidupan sosial Jawa Barat dibentangkan sebegitu luasnya. Rawa Lakbok yang terletak di ujung timur Jawa Barat itu pun digambarkan begitu apik sekaligus puitik dalam buku tersebut.

Saya kira, penggambaran itu tidak terlalu berlebihan. Meskipun itu direkam 70 tahun lalu, namun,“vibes” serupa itu masih bisa dirasakan. Saya datang ke Lakbok pada Oktober 2023 lalu, beberapa bulan setelah masa panen usai. Kedatangan saya ketika itu menjadi bagian pergelaran budaya anak-anak muda Lakbok. Layang Lakbok Art & Culture Festival. Saya melihat, disepanjang jalan menuju Lakbok, di kiri dan kanan areal persawahan sehabis panen menghampar mengering. Sementara di tepi jalan, kanal-kanal melimpah terisi air.

Sebelum magrib, saya sampai di lokasi festival. Tepatnya di Blok Kuntul, sebuah lokasi yang berada di antara Desa Sidaharja dan Desa Baregbeg, Kecamatan lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Saya baru sekali itu melihat areal persawahan yang begitu luas. Saking luasnya, sejauh mata saya memandang hampir tidak bisa dilihat ujungnya. Ketika saya menanyakan kepada warga berapa luas areal persawahan itu. Dengan sigap mereka menjawab, “sekitar 1000 hektar, kang.”

Di lokasi kegiatan, lagi-lagi saya teringat akan gambaran masa lalu Lakbok. Kiranya, penggambaran serupa itu yang ditafsirkan kembali oleh anak-anak muda Lakbok melalui festival. Sebuah panggung pertunjukan tanpa atap digelar di salah satu sudut persawahan. Dari kejauhan, tepat di belakang panggung, bilah-bilah bambu dibuat berombak-ombak. Riaknya, persis serupa padi yang disapu angin kian kemari. Di tengah-tengah riak itu, wujud burung Kuntul berdiri dengan tungkainya yang panjang. Ukurannya cukup besar. Paruh panjangnya serupa sedang mematuk-matuk hama padi. Hama padi yang menjadi musuh petani.

Di sudut yang lain, beberapa petak sawah juga dikavling. Di titik itu, dijadikan lokasi permainan layang-layang malam. Tak tanggung-tanggung memang, pada malamnya ratusan layang-layang menghiasi langit Lakbok hingga pagi menjelang. Sementara itu, beberapa lapak jual beli masyarakat sengaja ditempatkan di pintu masuk. Panitia memang menginginkan untuk sampai ke lokasi panggung, pengunjung harus melewati lapak-lapak masyarakat terlebih dahulu.

Memang, Layang Lakbok Art & Culture Festival diinisiasi dari kebiasaan unik masyarakat Lakbok. Menghabiskan masa panen yang kerontang untuk mengulur benang layang-layang. Dari siang kering berangin, hingga malam yang gigil dan dingin. Permainan yang diminati masyarakat ini kemudian dikelola dengan baik oleh pemuda Desa. Tidak hanya permainan layang-layang, selama tiga hari dua malam ragam kesenian dipertunjukkan. Mulai dari kesenian tradisi, kreasi, hingga kesenian-kesenian kontemporari. Tak ketinggalan pula bazar kuliner dan UMKM masyarakat setempat, serta serangkaian diskusi terkait dunia tani dikemas menjadi materi acara.

Layang Lakbok: yang direntang panjang dalam ingatan masyarakat

Benar rupanya, bahwa Layang Lakbok Art & Culutre Festival tidak berangkat dari mimpi-mimpi heroik semata. Oleh para penggeraknya, Layang Lakbok adalah untaian panjang benang sejarah masa silam. Rawa tak bernama yang selalu basah, rawa basah yang dijalari oleh hewan-hewan berbisa, hutan lebat yang dihuni binatang-binatang buas mengerikan. Serta cerita-cerita mistis tentang onom yang begitu menakutkan. Dalam beberapa waktu, disulap oleh Wiratanuningrat, Bupati Sukapura—sekarang Tasikmalaya, menjadi lahan penghidupan untuk masyarakat banyak yang menyangga daerah-daerah sekitarnya. Sebuah proyek raksasa yang tentu menelan biaya yang tidak sedikit. Namun, seolah sedang main-main, proyek visioner itu dimulai dengan bermain layang-layang.

Sang bupati mengajak sekalian rakyatnya untuk bermain layang-layang. Tidak hanya dari daerah Lakbok, pun dari luar Lakbok. Sekian banyak yang menjadi pemain, sekian banyak pula yang menjadi penonton. Ketika layang-layang putus dari talinya, masyarakat yang menonton tidak tinggal diam. Mereka berlarian mengejar tanpa rasa gentar. Bahkan hingga ke rawa onom yang menakutkan sekalipun. Agaknya tidak ada yang menakutkan jika sudah menyangkut hasrat ingin memiliki. Meskipun itu hanya layang-layang.

Lantas, ketika rasa takut sudah hilang, maka di situ pembangunan mulai dijalankan. Rawa itu kemudian dikeringkan, airnya dihilirkan melalui kanal-kanal menuju Cilacap. Setelah Rawa mengering, sang bupati mengkavling tanah, kemudian membagi-bagikannya kepada masyarakatnya untuk kemudian ditanami padi. Ia membayangkan, areal itu akan menjadi lumbung pangan untuk orang-orang bagian barat pulau Jawa dan mungkin juga bagian tengah.

Kisah hebat ini pula yang kemudian mengisnpirasi banyak seniman Jawa Barat. R. Muh. Sabri Wiraatmadja, menukilkan sejarah dan asal usul Lakbok itu dalam naskah yang kemudian dikenal dengan Babad Lakbok. Sastrawan kawakan Jawa Barat Aoh K. Hadimadja juga menulis naskah drama tiga babak berjudul Lakbok. Naskah ini bercerita tentang pembudidayaan alam Rawa Lakbok di Jawa Barat yang dilakukan oleh seorang insinyur pengairan, dan kawan-kawannya. Naskah ini menggambarkan tentang heroism dengan segala tantangan yang dihadapi sang insinyur untuk kebahagiaan banyak orang. Serta bagaimana konflik yang dikelolanya, baik dalam pekerjaan, maupun dalam rumah tangganya. Hari ini, dengan gagah pula para pemuda Lakbok merayakannya dengan sebuah gerakan kebudayaan. Mereka menyebutnya dengan Layang Lakbok Art & Culture Festival. Sebuah gerakan budaya kaum tani.

Bagi pemuda Lakbok, Layang Lakbok Art & Culture Festival tentu tidak hanya hiruk pikuk keramaian dan perayaan semata. Dimana, pengunjung yang ribuan itu diisuguhkan ragam penampilan, permainan-permainan, lalu pulang. Sebagaimana festival ini begitu lekat dengan sawah, tentu festival ini begitu penting bagi masyarakat Lakbok yang mayoritas adalah petani. Karena itu, festival ini perlu dibuka dengan rembuk masyarakat tani. Melalui rembuk tani, pemuda Lakbok hendak membuka ruang dialog antar masyarakat. Masyarakat dengan dinas terkait. Dinas terkait dengan perangkat desa. Bagaimana kemudian, niat baik, cerita baik, keluhan-keluhan masyarakat terkait pertanian, diwadahi dalam ruang itu. Membayangkan budaya pertanian yang sebetulnya telah dimulai jauh oleh sang bupati visioner dahulu. Yang dengan bijaknya telah memikirkan pertalian-pertalian ekonomi melalui pertanian. Antara ia sebagai penguasa, kemudian masyarakat, serta tanah sawah yang diberikan untuk kemakmuran.

Lantas, bagaimana hari ini? Bagaimana kemudian melalui festival ini para pemuda Lakbok memaknai praktik mbawon? Bagaimana pula jaminan sosial untuk buruh tani yang hanya memiliki sabit dan cangkul? Mereka, yang sejak cangkul dan sabit diayunkan, sepenuhnya telah menyerahkan diri kepada Tuhan dan juga kepada pemilik-pemilik tanah sawah.

Setelah festival usai, tentu kanal-kanal akan dibuka, sawah akan dialiri kembali. Blok Kuntul akan kembali basah. Burung-burung Kuntul kembali bersuka ria. Petani akan memulai rutinitasnya, menunduk pada tanah. Berdoa, berikhtiar, bertawakal, menyerahkan segala usaha pada riak alam. Setelahnya, riak-riak padi yang menguning akan kembali dirayakan ketika panen selesai.

Posted In ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *