Pada pertengahan Oktober 2025 lalu, dari Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, saya bertolak ke Sumatera Utara. Selama seminggu lebih saya diundang menjadi penyaksi untuk perhelatan teman-teman Rumah Karya Indonesia, dalam gelaran Jong Bataks Arts Festival (JBAF) #12. Selama sepekan lebih itu pula saya bertugas sebagai reviewer, pengamat, sekaligus pengemat (senyum-senyum kecil) karena tidak pernah absen mencicip tusor, alias tuak sore yang hangat.
Pengeras suara di kabin pesawat membangunkan saya, awak pesawat menginformasikan sebentar lagi akan mendarat di bandar udara Kualanamu. Saya melihat kota Medan dari ketinggian. Dari udara, kota ini tampak dibalut mendung. Menjelang landing, pesawat berguncang pelan menembus lapisan demi lapisan awan. Ketika roda pesawat menyentuh landasan udara, lembap mulai terasa. Benar saja, udara Medan siang itu memaksa saya memakai jaket yang dari Bandar Udara Minangkabau memadat saja di dalam tas ransel saya. Sambil menunggu bagasi, Hp saya tiba-tiba bergetar, rupanya tiket kereta menuju Stasiun Medan sudah disiapkan pula oleh panitia.
Saya diarahkan keluar bandara. Dengan sedikit was was saya menyusuri jalur menuju stasiun kereta yang ternyata masih satu kawasan dengan kompleks bandara. Saya kira ini satu kemudahan transportasi yang cukup memadai di tengah ritme kota urban Medan hari ini. Saya memindai barcode, terdengar bunyi “bip”, kemudian pintu otomatis terbuka. Seperti halnya penumpang lain, saya berdiri sebentar di peron sambil menunggu instruksi. Selang setelahnya saya menaiki kereta dan mencari tempat duduk. Saya melihat ke dinding dalam kereta. Ada lima stasiun yang akan saya lalui sebelum tiba di stasiun Medan.
“Nanti kalau sudah dekat stasiun Medan, kabari saya, bang,” pesan salah seorang panitia melalui telepon. Begitu kereta mulai memperlambat laju, saya memberi kabar. Tak lama, kami pun berjumpa. Sambil berjalan menuju parkiran, kami berkenalan, dengan rasa canggung kami bersalaman dan berkenalan. Kami menuju hotel lebih dulu untuk menaruh barang, lalu bersiap ke Taman Budaya Medan.
“Beberapa hari ini hujan, bang,” kata dirver yang menjemput saya dengan logat berintonasi keras tapi mengayun. Informasi itu ia sampaikan sambil menatap langit. Saya pun menurunkan kaca mobil, mendongak, dan ikut melihat ke atas. Langit Medan tampak semakin berat.
“Wah, berlainan sekali dengan tempat tinggal saya, sudah hampir 1 tahun ini hujan turun bisa dihitung dengan jari,” balas saya berusaha komunikatif. Saya menambah informasi, bahkan petani-petani di tempat saya beberapa bulan ini sedang diuji benar. Banyak sawah tidak menjadi, tidak sedikit ladang Ubi tumbuh tiada berdaun. Cabe, timun, jagung, dan lainnya tumbuh dengan daun yang keriting. Tumbuh-tumbuhan itu seperti hidup segan dan mati pun tak mau. Sepertinya dunia pertanian di tempat saya sedang sial-sialnya. Bagaimana mungkin dunia agraris yang terhubung dengan tanah, air, dan segala yang ada di bawah dan di atasnya tak berdaya di hadapan musim. Driver saya hanya mengangguk, lalu melanjutkan perjalanan.
****
Sekitar pukul dua siang kami tiba di Taman Budaya Medan. Komplek kebudayaan yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33, Medan Timur itu tampak didominasi oleh anak-anak muda. Agaknya Taman Budaya Medan ini hidup dari energi anak-anak mudanya. Di halaman, beberapa steger, rangka besi yang biasa digunakan tukang disusun seperti instalasi sementara. Besi-besi itu menjadi penopang layar putih, kain hitam, umbul-umbul, hingga spanduk-spanduk yang memuat pesan-pesan singkat. Pesan singkat itu nyaris seperti seruan dalam demonstrasi seni.

Foto: Arsip JBAF
Di dalam gedung utama, para kru panggung bekerja dalam ritme yang begitu riang dan terkoordinasi lewat walkie talkie yang bergelantungan di pinggang mereka. Mereka menata kabel, menandai saluran mikrofon, memasang proyektor, setiap gerak diiringi tawa dan canda. Di luar, di sisi gedung, berdiri panggung besar berukuran dua belas kali delapan meter. Panggung itu hampir memenuhi halaman. Di depannya, sebuah tenda berukuran hampir sama menaungi deretan kursi yang tersusun rapi, seolah begitu siap menanti para penonton, penikmat kesenian di kota Medan.
Tim luar gedung tampak tak kalah antusias. Beberapa orang lalu-lalang, menenteng kabel, menggelangi lakban, mengatur posisi speaker, memeriksa checklist pekerjaan satu per satu. Suasana kerja yang mengingatkan saya pada awal-awal perkuliahan, kebersamaan yang khas dalam kerja kolektif anak-anak artistik. Di halaman depan gedung utama, terbentang pula layar putih berukuran tiga kali empat meter. Di hadapannya dibangun dua tingkat level, satu setinggi satu meter, yang lain dua meter. Diatasnya ditarok beanbag warna-warni tempat nanti orang-orang bisa duduk seenak badannya. Agaknya venue outdor itu tampak disiapkan bukan sekadar untuk menonton, melainkan untuk intim dengan apa yang ditonton.
Di samping layar ada ruang pameran. Dua buah ruangan cukup besar, di dalamnya telah terpajang dengan rapi sejumlah karya rupa dan karya seni media. Objek-objek dengan teks-teks yang terhubung dengan dunia agraris. Objek itu telah siap membuka dirinya untuk memberikan sensasi visual, emosi personal yang akan dihujamkan ke dalam diri siapa saja yang akan melihatnya.
Di antara ruang pameran, terbuka sebuah halaman kecil yang dibiarkan tanpa atap. Di ruang terbuka itu, panitia menata sejumlah bibit tanaman herba dan tanaman dapur hidup yang ditaruh dalam polybag. Barisan tanaman itu tentu saja tidak sekadar hiasan, melainkan sebagai sebuah kampanye kecil tentang pentingnya pangan lokal. Halaman kecil itu dibayangkan sebagai satu penanda kesadaran ekologis. Bahwa mengelola tanah, menanam kembali, dan menghargai hasil bumi adalah bagian dari praktik kebudayaan itu sendiri. Upaya seperti ini juga dibayangkan sebagai cara memperkuat jejaring petani dan produsen lokal, serta mendorong pola konsumsi yang lebih sehat dan beragam bagi masyarakat urban perkotaan.
Tak jauh dari situ, sebagai venue terakhir. Sebuah ruang yang oleh panitia dibayangkan sebagai titik temu paling penting. Ruang yang dinamai Pasar Raya. Di dalamnya, sejumlah tenant pangan lokal mengisi lapak-lapak sederhana, menciptakan suasana pasar yang hidup, dan mungkin saja menghidupi. Pasar ini bukan sekadar tempat jual beli. Ia juga berfungsi sebagai ruang komunitas, tempat diskusi, dan ajang kolaborasi lintas lembaga serta organisasi. Diharapkan di Pasar Raya inilah percakapan dan pertukaran gagasan berlangsung. Mulai dari obrolan tentang buku, lingkungan, pengelolaan sampah, hingga masakan tradisi. Aktivitas ekonomi akan dibungkus dengan wacana kebudayaan. Mengembalikan pasar sebagai ruang sosial. Tempat orang berjumpa, bertukar pengetahuan, dan menegosiasikan makna “lokal” dalam kehidupan sehari-hari.

Foto: Arsip JBAF
****
Tepat jam 6, langit sepertinya tak mampu lagi menahan uap air yang semakin berat. Rintik-rintik kecil mulai merinai. Wajah anak-anak muda Medan yang sudah was-was sedari sore semakin malam tampak semakin cemas. Semakin malam turunnya semakin deras. Beberapa pengunjung, dan tentunya juga penyelenggara tak berhenti melihat jam sambil sesekali melihat ke langit.
Pembukaan resmi yang semula dijadwalkan jam 7 mundur sedikit. Setelah beberapa tamu undangan penting mulai datang, panitia mulai mengarahkan penonton untuk masuk ke dalam gedung pertunjukan. Meskipun tak penuh sesak, namun kursi gedung pertunjukan tak pula tampak banyak yang kosong.
Panggung dipenuhi cahaya kehijau-hijauan. Warna yang nyaris sama dengan pallet dan template visual acara. Poster-poster, flyer, maupun gambar-gambar bergerak lainnya. Pilihan warna yang sangat cocok dengan tema dan topik keseluruhan kegiatan festival. Materi-materi visual itu kemudian diproyeksikan ke beberapa titik di atas panggung. Belakang panggung, sisi kiri dan kanan panggung.
“Bagi Rumah Karya Indonesia, terselenggaranya JBAF #12 ini menjadi kebanggaan yang tak terkira. Sebelas belas tahun sudah berdarah-darah, rasanya tahun ke dua belas ini terbayarkan dengan lunas. Di tengah kebijakan dan selera publik yang senantiasa terus berubah, konsistensi itu terasa seperti bentuk perlawanan halus terhadap ketidakteraturan zaman,” Audrin mengantar pembukaan JBAF #12.
Ojak Manalu selaku kurator, pada malam itu menekankan bahwa melalui tema Ronggurnesia, JBAF #12 menghadirkan ajakan yang begitu dalam, begitu reflektif. Bagaimana kemudian menengok kembali akar budaya sebagai sumber daya kehidupan. Dalam lanskap sosial yang diwarnai ancaman krisis pangan, perubahan iklim, dan alih fungsi lahan, seni tampil bukan sekadar bentuk ekspresi estetik, tetapi sebagai aktivitas-aktivitas etik. Ia menjadi cara masyarakat untuk mengingat bahwa warisan lokal berupa pengetahuan tentang lingkungan, pengetahuan menanam, memasak, dan berbagai pangan adalah fondasi yang menjaga dapur bangsa tetap berisi. Sebuah kreativitas untuk humanitas.
Gondang Batak dipukul bersama-sama. Ibu Irini Dwi Wanti, Direktur Bina Sumber Daya Manusia Lembaga dan Pranata Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, juga ada Kepala Dinas Pariwisata Medan. Pukulan Gondang itu diiringi oleh ritma hujan yang semakin menderas. Bunyi optimisme tentang pangan, tentang dunia agraris di tepi pantai Timur Sumatera yang menjalar hingga ke pedalaman Sumatera Utara itu di tabuh bersama restu langit.

Foto: Arsip JBAF
Agaknya, para Datu dari dataran tinggi tak berhenti merapal tonggo-tonggo, tabas-tabas, untuk restu terberkatinya JBAF #12 yang bertema “Pangan Lokal; Ronggurnesia” ini. Sebagaimana harapan para petani di dunia agraris, bahwa tanah, air, dan segala yang ada di bawah dan di atasnya senantiasa berdamai dengan musim. Agaknya hujan tak berhenti memberi air untuk JBAF #12, untuk bibit-bibit dan tunas-tunas kebudayaan Batak yang telah mereka tanam sejak sebelas tahun yang lalu.


Tinggalkan Balasan